Memelukmu Lagi

Kali ini, biarkan aku yang bercerita. Ingatkah kamu peristiwa mati lampu beberapa tahun lalu itu? Ketika kita merasa ada yang salah dalam hubungan ini, tanpa kita tahu penyebab pastinya. Lalu, ‘puasa bicara’ kita selesai oleh satu pelukan di malam itu. Pelukan yang merangkum banyak kata yang tidak sanggup kita utarakan. Tapi, nyatanya tidak selamanya pelukan … Continue reading »

Surat #8: Melangkah Lagi

Kalau kau terusterusan menggenggam masa lalu, bagaimana bisa menjemput bahagia yang baru? Sudah kuterima pesanmu itu, melalui gumpalan awan yang meluruh dalam hujan kemarin malam. Ya, kamu benar. Ada saatnya ketika kita benarbenar harus melihat hanya ke depan, menahan diri untuk tidak menengok ke belakang. Lalu, seperti melepaskan balonbalon. Aku memvisualisasikannya dalam kepala, aku melepaskan balonbalon … Continue reading »

Surat #7: Sepasukan Kupukupu

Beberapa hari lalu, aku menemukan bangkai kupukupu di perutku. Entah sejak kapan ia mati, setelah sebelumnya membuat luka di situ. Sayapnya patah. Aku baru tersadar, memang sudah lama tidak ada yang menggelitik pilu, ataupun sepasukan kupukupu yang mengantarkan rindu. Aku kangen dihampiri kupukupu di perutku. Kangen tungkainya yang menggesekgesek sampai ke jantungku, membuat degup tidak teratur. … Continue reading »

Surat #6: Menanti Pelangi

Biasanya hujan hanya mampir di kotaku. Kali ini, derasnya memeluk seluruh pelosok negeri. Tanpa kecuali, tanpa henti. Harus berapa liter lagi hujan tercurah untuk bisa melihat pelangi? Kalau memang hujan bisa melarutkan kenangan, mungkin itu bisa aku pertimbangkan. Nyatanya, hujan malah menghadirkan semakin banyak kenangan. Pelangi, cepatlah pulang. Tidak perlu terlalu lama meracik warnamu. Ah, … Continue reading »

Surat #5: Sebelum Kamu Ada

Ketika Bunda menuliskan surat ini, kamu belum terlahir ke dunia. Tapi, Bunda suka sekali membayangkan kirakira kamu seperti apa. Oh iya, setiap kali jalanjalan di mal, kalau nemu baju yang lucu, Bunda membelikannya buatmu. Tuh, semuanya tersimpan rapi di lemari. Padahal, kamunya aja belum ada. Nak, ketika tau bahwa kamu ada di rahim Bunda, bahagianya ngga … Continue reading »

Surat #4: Kapanpun kamu siap.

Hei.. Tidak, saya tidak akan bertanya mengenai kabarmu. Saya tau persis bagaimana keadaanmu saat ini. Ada luka yang belum juga mengering, padahal saya tau betul bagaimana usahamu memulihkannya. Saya tau bahwa kamu sedang tidak baikbaik saja. Maafkan, waktu itu sebenarnya saya sudah berhatihati. Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya terjatuh juga. Sudah saya empukkan tanah di … Continue reading »