..melangkah menuju

Posted on March 20, 2011

0


Lelaki itu berjalan dengan beban di pundaknya. Masa lalu di bahu kiri, masa depan di bahu kanan. Keduanya terbagi rata di pundak tidak terlalu besar miliknya.

Perempuan itu juga berjalan dengan beban masa lalu di pundaknya. Cukup berat untuk membuatnya melangkahkan kaki dengan ringan.

Gerimis yang mengiringi langkahlangkah kecil mereka, membuat saru airmata. Ada rasa panas di sudut mata yang tidak bisa ditahan untuk tetap di tempatnya, kemudian keluar sebentuk airmata yang menitik satu per satu. Gerimis semakin deras, serupa hujan yang tidak lagi indah untuk dijadikan latar tarian kesedihan. Pada satu persimpangan, mereka bertemu. Berteduh, memesan secangkir kopi, berbincang basabasi. Mereka duduk berhadaphadapan, menghabiskan senja tanpa saling bertanya nama.  Lalu obrolan semakin mencair, seolah saling mengerti beban yang diemban.

Hujan belum juga reda. Beberapa kali mereka sengaja berdiam, memerhatikan kepulan kopi di cangkir masingmasing lalu menghirupnya dalamdalam.

Malam sudah mengetuk, bertukar tongkat estafet dengan senja. Kini waktunya malam yang menjaga langit. Lelaki dan perempuan itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Masih banyak setapak yang harus ditempuh di depan sana. Keduanya saling menepuk bahu satu sama lain, menguatkan.

Lelaki itu mengambil jalan sebelah kanan. Sementara perempuan itu menyusuri tepian kiri. Ditemani bayangannya sendirisendiri.

Entah, mungkin pada suatu nanti, mereka akan bersinggungan lagi pada persimpangan lainnya. Yang pasti, mereka telah menanggalkan masa lalu pada ampas kopi di kedai yang mereka singgahi.

 

Posted in: bercerita