Merayakan Tigapuluh

Selamat sore, sayang. Bagaimana kegiatanmu di kantor hari ini? Mungkin pikiranmu sedang penat oleh pekerjaan yang seolah tak selesaiselesai. Kamu boleh baca surat singkat ini kapanpun waktumu tak padat. Sore ini hatiku sedang menghangat, mengingatingat bagaimana akhirnya kita bisa bertukar rasa. Perkenalan sepuluh tahun yang kita jalani sendirisendiri, akan menjadi cerita betapa kamu benarbenar berusaha … Continue reading

Selamanya Kita

Manusia adalah makhluk kadangkadang. Kadang tertawa sampai tubuhnya terguncang, kemudian tibatiba melahirkan ledak tangis yang awalnya ditahan diamdiam. Kadang menjelma bijak yang menasihati keluh setiap orang, kemudian mendadak lemah seolah setiap jalan adalah buntu. Juga seperti kamu yang kadang merasakan debar jatuh cinta dan pipi bersemu merah, kemudian esoknya hati berdarahdarah oleh duka yang patah. … Continue reading

Kereta Waktu

Rasanya melelahkan ketika kamu berusaha melakukan hal yang tidak mungkin bisa dilakukan. Lain halnya dengan memaksakan diri melakukan halhal di luar kebiasaan, hingga kamu tau batas kemampuanmu yang tidak kamu kira sebelumnya. Ini adalah soal menghentikan waktu. Ya, jelas tidak bisa kamu lakukan, kan? Begitupun saya. No I’m not color blind I know the world … Continue reading

Memelukmu Lagi

Kali ini, biarkan aku yang bercerita. Ingatkah kamu peristiwa mati lampu beberapa tahun lalu itu? Ketika kita merasa ada yang salah dalam hubungan ini, tanpa kita tahu penyebab pastinya. Lalu, ‘puasa bicara’ kita selesai oleh satu pelukan di malam itu. Pelukan yang merangkum banyak kata yang tidak sanggup kita utarakan. Tapi, nyatanya tidak selamanya pelukan … Continue reading

Surat #8: Melangkah Lagi

Kalau kau terusterusan menggenggam masa lalu, bagaimana bisa menjemput bahagia yang baru? Sudah kuterima pesanmu itu, melalui gumpalan awan yang meluruh dalam hujan kemarin malam. Ya, kamu benar. Ada saatnya ketika kita benarbenar harus melihat hanya ke depan, menahan diri untuk tidak menengok ke belakang. Lalu, seperti melepaskan balonbalon. Aku memvisualisasikannya dalam kepala, aku melepaskan balonbalon … Continue reading

Surat #7: Sepasukan Kupukupu

Beberapa hari lalu, aku menemukan bangkai kupukupu di perutku. Entah sejak kapan ia mati, setelah sebelumnya membuat luka di situ. Sayapnya patah. Aku baru tersadar, memang sudah lama tidak ada yang menggelitik pilu, ataupun sepasukan kupukupu yang mengantarkan rindu. Aku kangen dihampiri kupukupu di perutku. Kangen tungkainya yang menggesekgesek sampai ke jantungku, membuat degup tidak teratur. … Continue reading