Surat #5: Sebelum Kamu Ada

Ketika Bunda menuliskan surat ini, kamu belum terlahir ke dunia. Tapi, Bunda suka sekali membayangkan kirakira kamu seperti apa. Oh iya, setiap kali jalanjalan di mal, kalau nemu baju yang lucu, Bunda membelikannya buatmu. Tuh, semuanya tersimpan rapi di lemari. Padahal, kamunya aja belum ada.

Nak, ketika tau bahwa kamu ada di rahim Bunda, bahagianya ngga bisa Bunda deskripsikan, pokoknya senang luar biasa. Begitupun dengan Ayahmu. Setiap malam, selelah apapun Ayahmu, dia akan menyempatkan untuk memijat pinggang dan punggung Bunda, dia kadang terlalu khawatir Bunda kelelahan, padahal Bunda baikbaik saja. Lalu, sambil mengusapusap perut Bunda, dia akan mulai bercerita tentang pekerjaannya, hobinya, mimpinya, atau apapun kepada kamu sampai dia ketiduran. Percayalah, Nak, dia itu Ayah luar biasa. Bunda bangga bisa memiliki kalian berdua.

Nak, kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti? Astronot? Dokter spesialis? Penulis novel fantasi? Atau kamu tertarik menjadi vokalis band dengan sorotan lampu di panggung yang megah? Menjadi apapun kamu, Bunda dukung, Nak. Asalkan kamu menjalaninya dengan tanggung jawab. Apapun itu, hiduplah dengan passionmu.

Bunda akan selalu berusaha menjadi ibu terbaik buat kamu. Mengingat kembali pelajaran waktu kuliah dulu, tentang psikologi perkembangan. Semoga Bunda bisa menerapkannya untuk merawat dan membesarkan kamu. Tapi, kamu juga harus bantu Bunda ya, untuk selalu menjadi yang Bunda banggakan. Kalau ada apaapa, sini cerita sama Bunda. Sepulang sekolah, biasanya kamu mulai bercerita banyak hal. Tentang pelajaran matematika yang rumit, tentang tes olahraga yang sangat kamu suka, tentang teman sejemputan yang kamu taksir diamdiam. Ya, ceritakan semua pada Bunda, Nak.

Di luar sana, dunia semakin entah seperti apa, Nak. Bunda ingin jadi sahabat terbaik kamu, tempat kamu cerita tanpa rasa canggung. Seiring kamu remaja dan dewasa, mungkin akan ada pertikaian dan perbedaan pendapat diantara kita. Ngga apaapa ya, Nak, itu proses yang wajar. Asal jangan lamalama kalau ngambek, nanti Bunda kesepian.

Sudah sedewasa apapun kamu nanti, selamanya akan menjadi ‘bayi’ Bunda, yang akan selalu Bunda jaga. Setiap malam, habis berkegiatan seharian, seringkali kamu langsung tertidur, lalu Bunda mematikan lampu kamarmu dan membalutkan selimut untukmu. Sudah malam. Waktunya tidur, Nak.

Besok kita lanjut bercerita lagi ya..

Peluk sayang,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s