Surat #7: Sepasukan Kupukupu

Beberapa hari lalu, aku menemukan bangkai kupukupu di perutku. Entah sejak kapan ia mati, setelah sebelumnya membuat luka di situ. Sayapnya patah. Aku baru tersadar, memang sudah lama tidak ada yang menggelitik pilu, ataupun sepasukan kupukupu yang mengantarkan rindu.

Aku kangen dihampiri kupukupu di perutku. Kangen tungkainya yang menggesekgesek sampai ke jantungku, membuat degup tidak teratur. Kangen kepaknya yang menyentuhnyentuh dinding perutku membuat senyum di bibirku. Kangen gurauannya mengisi rongga paruparu, meringankan sesak nafasku.

Beberapa waktu lalu, aku berkenalan dengan seseorang. Aku pikir, aku bisa menghadirkan sepasukan kupukupu. Nyatanya tidak. Setelah pertemuan itu, aku tidak merasakan apaapa. Ataukah kupukupu sudah jemu mampir di perutku? Oh, kumohon jangan. Tapi, benar, tidak ada suarasuara gaduh di sana. Perutku tenangtenang saja. Aku kecewa.

Tadi pagi, aku terbangun oleh bisikan bernada riang. ‘Selamat pagi, kami sudah berada di perutmu sejak semula kamu berkenalan dengan dia. Tapi kami diamdiam saja, tidak bersuara ataupun mengepakkan sayap. Kami hanya tidak mau mengganggu kalian.”

Aku tersenyum.

“Jangan malumalu begitu, kami tau kalian bahagia.” lanjut kupukupu sambil memercikkan kembang api.

butterfly

Selamat datang, kupukupu. Jangan buat luka lagi di situ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s