Memelukmu Lagi

Kali ini, biarkan aku yang bercerita.

Ingatkah kamu peristiwa mati lampu beberapa tahun lalu itu? Ketika kita merasa ada yang salah dalam hubungan ini, tanpa kita tahu penyebab pastinya. Lalu, ‘puasa bicara’ kita selesai oleh satu pelukan di malam itu. Pelukan yang merangkum banyak kata yang tidak sanggup kita utarakan. Tapi, nyatanya tidak selamanya pelukan menyelesaikan pertikaian. Pernah juga, waktu kita sedang dalam masalah, kamu mengunci kamar, sehingga aku harus tidur di sofa ruang tengah. Keesokan paginya, aku terbangun oleh aroma kopi yang sudah kamu siapkan di meja. Aku juga tersadar, tubuhku sudah terbalut selimut hangat. Ah, pasti semalam kamu mengendap ke luar, dan tidak tega melihat aku kedinginan, kan?

Yah, begitulah. Hubungan kita selalu ada kerikilkerikilnya, tapi kita selalu punya cara menyelesaikannya.

Sayangnya, untuk kali ini, aku tidak begitu yakin. Karena, suatu malam kita bertengkar hebat. Saling berbicara dengan nada tinggi. Tapi, aku menahan diri untuk tidak mengeluarkan katakata kasar, karena aku tahu itu akan meninggalkan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh apapun. Malam itu juga, kamu memilih untuk ke rumah orangtuamu. Aku tidak melarang, mungkin kamu memang butuh sendiri dulu dan menjauh sebentar dari aku. Padahal ingin sekali rasanya mencegahmu pergi, dengan sedikit marah, dan agak posesif.

Waktu terus saja berjalan maju, tidak peduli kita yang masih tersaruksaruk berusaha merangkak di belakang, mengikuti alurnya. 2 hari, 3 hari, tidak terasa sudah seminggu kamu tidak pulang ke rumah kita. Setiap BBM, SMS, atau telepon dariku tidak ada yang kau tanggapi. Beberapa kali aku mampir ke rumah orangtuamu, hasilnya nihil; kamu tidak mau diganggu. Dan jika itu sudah menjadi kemauanmu, aku bisa apa?

Jadi, sudah seminggu ini, aku membuat kopi sendiri, sayang. Tidak ada sarapan dan kopi yang tersaji seperti yang biasa kamu siapkan. Rumah ini terasa begitu sepi. Tidak ada omelanmu yang mengingatkanku untuk tidak melempar baju kotor di lantai, tidak ada kamu yang sibuk memilihkan kemeja-celana-dasi dengan warna senada, tidak ada kamu yang menyuruhku lekas pulang supaya bisa cepat istirahat. Dan kalau sekarang kamu di rumah, pasti sudah cerewet sekali melihatku makan mi instan setiap hari. Taukah kamu, kalau lagi marahmarah begitu, mukamu lucu sekali. Kadang, aku sengaja melakukan semua hal yang kamu larang, hanya untuk melihat ekspresi lucu dari mukamu.

Menjelang dini hari. Dan aku belum juga memejamkan mata. Kenangan tentang dirimu membuat hatiku semak. Menjadikanku selalu terjaga. Seperti yang lalu-lalu. Aku sengaja mampir ke kafe 24 jam favorit kita. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menuju sofa merah di sudut ruangan, tempat yang paling kamu suka. Mencoba memutar kembali kenangan masa silam. Wangi biji kopi, denting sendok, sesekali kesibukan di meja kasir, dan semua yang khas di kafe ini, terasa begitu familiar. Hanya kurang kamu dan ceritaceritamu.

Baru saja mengagumi wangi biji kopi dari kepulan dalam cangkir yang kupegang, ada aroma lain yang mengalihkan perhatianku. Wangi khas parfummu. Seketika aku menoleh dan tersenyum. Namun rupanya ekspresimu tidak tertular oleh senyum tulusku, raut mukamu begitu datar, nyaris tanpa ekspresi. Sungguh, aku lebih baik melihatmu marah dan berargumen tentang apapun, karena itu berarti kamu masih menyimpan rasa peduli, tidak apatis seperti ini.

Tanpa banyak bicara, kamu memberikan kartu nama, di sana tertera satu nama yang tidak terlalu kuperhatikan. Aku langsung melihat titel yang tertulis di bawah namanya. Konsultan Pernikahan. Baiklah, jadi setelah kamu mengasingkan diri dan berpikir jernih, menurutmu kita perlu pihak ketiga untuk menyelesaikan pertikaian kita kali ini?

‘Aku sudah tidak tahu bagaimana caranya berbicara dengan kamu. Mungkin kita memang butuh orang lain untuk membantu.’ suaramu begitu pelan, hampir tidak bisa kudengar. Lalu kamu berbalik, sebelum sempat aku memberi penjelasan ataupun persetujuan apapun. Inilah kopi terpahit yang pernah kusesap. Aku segera meninggalkan kafe, dan beranjak pulang. Jalanan begitu lengang, berkebalikan dengan pikiranku yang penuh dengan tanya.

Dua hari kemudian, kamu meneleponku untuk memastikan aku bisa hadir menemui konsultan pernikahan. Tidak bisakah kita selesaikan ini berdua secara dewasa? Tapi, daripada menambah keruh keadaan, kuturuti saja inginmu. Kamu menatapku seperti orang yang asing, lalu mencium tanganku tanpa bicara apaapa. Rasanya ingin sekali langsung memelukmu sebagai tanda usainya diam kita, lalu kita bisa kembali menghabiskan malam dengan celotehcelotehmu yang selalu membuat aku tertawa.

Pada sekian pertanyaan yang diajukan oleh ibu Marina, konsultan pernikahan itu, kita habiskan dengan lebih banyak diam. Sesekali kamu menjawabnya dengan menggebu, seolah melampiaskan emosi yang tertahan beberapa minggu ini. Akhirnya, kita diminta pulang dan kembali 3 hari lagi, dengan menulis surat untuk satu sama lain. Mungkin, kita bisa mengutarakan maksud dengan lebih jernih melalui tulisan.

Menurutku, akar permasalahannya semakin tidak jelas bahkan menjalar ke pembahasan yang tidak saling berkaitan. Dan kamu meminta bercerai? Dengar, sayang, aku akan mengusahakan apapun demi mewujudkan maumu, kecuali satu hal itu. Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjagamu.

Tiga hari kemudian, kita bertemu lagi. Datang sendirisendiri. Ibu Marina menyambut dengan hangat, ‘Jadi, bagaimana, sudah saling mencurahkan keinginan kalian lewat tulisan?’ kata bu Marina sambil tersenyum. Sebelum diminta, kamu berinisiatif memberikan suratmu ke bu Marina. Ada sekitar 4 lembar dan aku tidak tau apa saja yang kamu tuliskan di sana. Ibu Marina membaca dengan teliti, sesekali mengangguk dan melihat ke arah kita.

Sekarang giliranku. Suratku hanya satu lembar, isinya pun tidak penuh.

Untuk apapun kesalahanku, aku mohon maaf. Selamat hari pernikahan. Pulanglah, sayang. Rumah kita terlalu sepi untuk aku tinggali sendiri.

Bu Marina tidak berkata apaapa, begitupun kamu. Hanya menitikkan airmata.

Aku memerhatikanmu diamdiam. Kamu menghampiriku, sekali lagi mencium tanganku. Kebekuanmu perlahan mencair. Aku memelukmu erat sekali.

Tibatiba aku teringat percakapan kita di masa silam.

‘Apakah kita akan selalu sebahagia ini?’ tanyamu pada suatu malam di awalawal pernikahan kita yang masih manis.
‘Aku tidak bisa menjanjikan itu. Mungkin ada kalanya kita bertengkar, berbeda pendapat, kemudian saling diam. Tapi bagaimanapun keadaannya, kita akan saling jatuh cinta lagi setelahnya.’ lalu aku menggengam tanganmu kian erat, yang dibalas olehmu dengan senyum hangat.

Pagi itu, bukan hanya udara Jakarta yang basah. Mataku juga.

Advertisements

One thought on “Memelukmu Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s