Selamanya Kita

Image

Manusia adalah makhluk kadangkadang. Kadang tertawa sampai tubuhnya terguncang, kemudian tibatiba melahirkan ledak tangis yang awalnya ditahan diamdiam. Kadang menjelma bijak yang menasihati keluh setiap orang, kemudian mendadak lemah seolah setiap jalan adalah buntu. Juga seperti kamu yang kadang merasakan debar jatuh cinta dan pipi bersemu merah, kemudian esoknya hati berdarahdarah oleh duka yang patah.

Aku sudah hafal betul kebiasaanmu ketika patah hati. Kamu akan mengajakku ke atas rumah pohon, seperti kali ini. Menghabiskan siang sampai melihat matahari bersembunyi. Ini adalah rumah rahasia, katamu. Tempat berbagi halhal rahasia, cuma aku dan kamu yang tau. Kadang sambil mengoceh tiada henti mengutuk perempuan itu, kadang dengan diam penuh jeda yang rapat.

Cinta tumbuh, berkembang, lalu mati. Selalu begitu siklusnya, seperti lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Para pemuja cinta yang mengagungkan cinta abadi pun pasti pernah merasakan akhir perjalanan cinta, sebelumnya. Cintaku buat kamu juga sudah mengalami tumbuh, mati, tumbuh lagi, mati lagi, entah untuk ke berapa kali.

Makin hari, aku semakin mengamini bahwa segala sesuatu memang memiliki masanya sendirisendiri. Seperti makanan instan yang ada tulisan tanggal kadaluwarsa di balik kemasannya. Begitupun soal hati yang terikat. Meski tidak ada penanda pasti mengenai kapan tanggal masa habisnya, tapi sebuah akhir hubungan adalah keniscayaan—oleh kematian atau sebab lainnya.

‘Tak ada yang abadi kecuali kenangan. Itupun jika kau tidak terserang lupa ingatan.’ kataku, sambil mengamati gumpalan awan yang membentuk aneka rupa sambil bergerak mengikuti angin.

‘Jadi, untuk apa memulai sesuatu yang pasti akan berakhir?’ tanyamu dengan nada yang dingin.

‘Mungkin untuk mengoleksi kenangan.’ jawabku, tanpa berpikir panjang. Sejujurnya, aku pun seringkali mempertanyakan hal yang sama. Mungkin itulah yang membuatku malas untuk memulai sebuah hubungan yang serius. Sikap yang berkebalikan denganmu, yang tidak pernah berjeda terlalu lama untuk memulai hubungan baru setelah putus, berharap bertemu dengan perempuan yang bisa kau jadikan akhir pencarian. Begitu penjelasanmu.

‘Aku sudah jauh berjalan mencari akhir, sementara kamu selalu ada bersamaku di setiap jejak perjalanan itu. Bagaimana kalau ternyata kamu adalah akhir pencarianku, ya?’ Entah kamu mengutarakan itu sebagai pernyataan atau pertanyaan, yang pasti kamu menyampaikannya setengah berbisik. Sialnya, bisikan itu terdengar jelas oleh pendengaranku. Angin yang sebenarnya bertiup biasa saja, seolah berdesir kencang sekali. Alihalih merasakan dinginnya angin, tubuhku malah terasa panas, mukaku sepertinya sudah berubah merah seketika. Aku mengalihkan pandangan, berharap kau tidak menangkap gugupku.

Kita sudah saling mengenal sejak di bangku SMA, saling bercerita tentang hal apa saja. Dari mulai kopi, udara, hobi, perjalanan, memori, sampai cinta masingmasing. Satu hal yang tidak pernah kita bahas: hati dan kita.

‘Mulai saat ini, aku mau mengoleksi kenangan tentang kita. Boleh?’ kamu menatapku dengan tidak biasa, dan tanpa cengengesan seperti hobimu saat berbicara tentang halhal tidak serius.

‘Kalau suatu saat rasa aku atau kamu mati, bagaimana?’ aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan.

‘Semoga tidak.’

Semoga. Kata yang cukup netral, bukan janji yang muluk. Karena, bagaimanapun kita tidak bisa saling berjanji bahwa rasa ini akan ada selamanya. Karena, selamanya adalah kata yang hanya ada di dongengdongeng klasik dan kamus semata. Sebut saja, ini selamanya versi kita. Rasa yang mungkin suatu saat mati, tapi tetap akan hidup melalui reinkarnasi berkalikali.

Tak ada yang mampu aku tuturkan. Kau memberiku pelukan yang demi Tuhan tidak mampu aku hindarkan. Kemudian langit menghadiahkan kita rintik yang manis, membuahkan senyummu yang magis. Bagaimana mungkin Tuhan meletakkan surga setelah mati, jika nyatanya surga itu ada di senja ini; mewujud senyummu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s