Surat #6: Menanti Pelangi

Biasanya hujan hanya mampir di kotaku. Kali ini, derasnya memeluk seluruh pelosok negeri. Tanpa kecuali, tanpa henti. Harus berapa liter lagi hujan tercurah untuk bisa melihat pelangi? Kalau memang hujan bisa melarutkan kenangan, mungkin itu bisa aku pertimbangkan. Nyatanya, hujan malah menghadirkan semakin banyak kenangan. Pelangi, cepatlah pulang. Tidak perlu terlalu lama meracik warnamu. Ah, … Continue reading

Surat #5: Sebelum Kamu Ada

Ketika Bunda menuliskan surat ini, kamu belum terlahir ke dunia. Tapi, Bunda suka sekali membayangkan kirakira kamu seperti apa. Oh iya, setiap kali jalanjalan di mal, kalau nemu baju yang lucu, Bunda membelikannya buatmu. Tuh, semuanya tersimpan rapi di lemari. Padahal, kamunya aja belum ada. Nak, ketika tau bahwa kamu ada di rahim Bunda, bahagianya ngga … Continue reading

Surat #4: Kapanpun kamu siap.

Hei.. Tidak, saya tidak akan bertanya mengenai kabarmu. Saya tau persis bagaimana keadaanmu saat ini. Ada luka yang belum juga mengering, padahal saya tau betul bagaimana usahamu memulihkannya. Saya tau bahwa kamu sedang tidak baikbaik saja. Maafkan, waktu itu sebenarnya saya sudah berhatihati. Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya terjatuh juga. Sudah saya empukkan tanah di … Continue reading

Surat #3: Surat Kesekian

Hampir jam sebelas malam, iPod memutarkan lagulagu secara acak. Lelah seharian ini tidak lantas membuatku segera mengantuk. Sambil iseng, saya merapikan folder di laptop. Ada 1 judul yang menarik saya untuk membukanya. Kamu tau isinya apa? Puluhan surat yang tidak pernah terkirim untukmu. Melalui suratsurat itu, saya menceritakan semuanya kepadamu. Tentang pertemuan, tentang rasa senang, … Continue reading

Surat #2: Dear Adist,

Hai, apa kabar? Ya, saya tau, kamu seringkali skeptis tentang pertanyaan itu. Menurut kamu, pertanyaan itu terlalu mainstream, sehingga tidak lebih sebagai kalimat basabasi ketika bertemu atau menyapa seseorang. Terserah bagaimana penilaianmu, kali ini saya benarbenar ingin mengetahui kabarmu. Semoga baikbaik selalu. Setidaknya, kamu berusaha untuk itu. Saya sangat mengenal kamu dan rasa sakitmu. Semoga … Continue reading

Surat #1: Untuk Kamu

Selamat malam, kamu.. Maaf, karena sangat jarang sekali menyapa lebih dulu. Aku hanya tidak terbiasa memanggil namamu, sementara sebutan ‘Sayang’ bukan lagi menjadi hakku. Lagipula, butuh waktu yang tidak sebentar untuk menghilangkan kebiasaan dan semua ingatan ‘aku-kamu’. Sempat menyesal juga pernah membiarkan kamu pergi, tapi aku bisa apa ketika kamu pun tidak lagi memperjuangkan ‘kita’? … Continue reading